Seandainya nanti gue dicalonkan jadi walikota, gue siap!

Bukan, gue bukan aktiivis politik dengan segala bla-bla-bla la la la nya. Bukan juga lulusan jurusan perpolitikan, bukan juga mahasiswa aktivis yang suka demo mengadu kesetaraan hak, menyiyir dengan merugikan banyak pengguna jalan, berkoar-koar meminta sebuah keadilan dari yang disebut janji.

Ah… negaraku, mungkin gue terlalu dini untuk bergumam sendiri. Membicarakan segalanya
dalam doa, mengadu kepada Tuhan tentang negeri yang kian susah membedakan mana yang benar dan mana yang salah. Entahlah, gue bukan tipe orang yang suka mencari kambing hitam suatu keadaaan. Ini semua salah pers, salah koran ini, salah stasiun tv itu, salah orang ini, salah orang itu, ahhh…seterah!

Bukan berarti gue diam saja, gue berusaha sekuat tenaga membuktikan bahwa janji-janji kemerdekaan yang dulu diperjuangkan sepenuh jiwa dan raga itu sekarang memang harus kita lunasi. Kalau bukan kita, siapa lagi. Dan gue sedikit berusaha melunasi melalui komunitas yang sudah dua tahun gue rawat ini, komunitas peduli anak-anak marginal dan jalanan yang semua volunteernya nggak pernah meminta yang namanya gaji, bayaran, kalaupun toh harus masuk media koran maupun televisi itu juga tanpa dibayar dan membayar, itu cuma bonus apresiasi dan penginspirasi, katanya. Iya katanya, semoga pemimpin-pemimpin gue sekarang ikutan terinpirasi juga.

Gue nggak mau bahas apa motivasi mendirikan ini, apa visi misi dan tujuan gue sebenarnya merawat sampai dua tahun. Satu jawaban dari dua tahun yang terlewati, gue siap jadi walikota jika nanti gue dicalonkan, gemes!

First, baru-baru ini anak-anak binaan komunitas RMP terkena gusur karena dampak perluasan pasar warung jambu. Lalu diam? Enggak! Salah dua dari pengurus RMP ikutan ngariung minggu pagi dengan Bapak walikota beberapa bulan sebelum adanya penggusuran. Bukan dengan cara demo kami berbicara, pelan-pelan. Kami berdiskusi dengan sajian khas dan penyambutan yang luar biasa hangat,

Pak, kemarin anak-anak binaan komunitas RMP mengeluh. Rumornya, rumah-rumah mereka bakal digusur?” inti dari diskusi dari kami kira-kira seperti itu.
“oh, tidak. Itu hanya gossip. Kami tidak pernah ada niatan ada penggusuran dari situ. Itu berita darimana” well, itu jawaban beliau beberapa bulan sebelum anak-anak kami dan keluarganya mengais-ngais mencari tempat tinggal baru.

Sekali lagi, gue bukan tipe orang yang mencari kesalahan-kesalahan dan mengumpat segala macamnya, gue tipe orang yang kadang-kadang lebih memilih untuk berpositif thinking dengan kemungkinan-kemungkinan positif yang gue analisa sendiri. Gue sadar, penggusuran itu pasti ada penyebabnya. Selain karena adanya perluasan lahan pasar, mungkin juga karena memang hunian anak-anak RMP dan keluarga sudah tidak layak huni dan tak berijin. Kebetulan memang kelas belajar kami berada tepat didepan pemukiman tidak layak huni, rumah dan gudang dari hasil mulung terkumpul jadi satu. Ah tapi, mengapa tidak ada alternatif lain untuk menyambung hidup mereka. Sudahlah, atau mungkin pemimpin-pemimpin itu sudah memberikan uang ganti rugi namun anak-anak kami dan keluarganya yang belum siap mencari tempat baru, mungkin~

Yah, walaupun kemungkinan-kemungkinan positif yang sudah gue analisis sedemikian rupa dan hingga itu tetap saja tidak mungkin mengubah keadaaan.

kak, kenapa sih bapak-bapak itu bulldozer rumah kita? Padahal kan kecil. Kenapa mau bangun mall disini, kenapa nggak kita dibikinin rumah susun biar kita bisa tinggal” ungkap rizki, 8 tahun.

…. Aduh nak, kamu terlalu dini untuk berbicara seperti ini. Suatu saat nanti kamu akan mengerti tentang yang disebut “kepentingan”. Tapi ah sudahlah, kamu tidak harus mengerti sekarang. Kamu masih dini….

Percaya nggak, kalau saat itu gue nangis seketika setelah mendengar berita penggusuran itu. Gue nangis di depan umum, di stasiun pasar turi Surabaya karena saat itu sedang perjalanan hijrah ke kota lain.

Jadi, bapak pemimpin itu pembohong?

Akhir januari, mereka resmi digusur. Anak-anak itu dan keluarganya terpontang-panting mencari rumah tinggal. Salah banyak anak kami, sementara tidur di aula pasar. Mereka memindahkan Kasur, lemari rame-rame disana. Bisa membayangkan, betapa mereka harus menahan dingin setiap malam, mencari wc umum untuk ke kamar mandi, bergelap-gelapan dengan lampu seadanya setiap malam, ahh apalagi sekarang sedang musim hujan, pasti….. Ah sudahlah tidak bisa berkata-kata tentang kondisi mereka.

Seandainya punya duit banyaaaak, kaya mendadak gue siap kok bangunin mereka rumah susun satu gedung aja. Gue beli satu hotel di kota ini, bangunannya aja ndak perlu pakai ac dan Kasur yang empuk sekali, ndak perlu.

Second, beberapa minggu di bulan lalu dikejutkan dengan sosok wahyu (9 tahun) yang sudah mulai tidak bersekolah lagi karena tidak ada dana untuk membeli LKS! Klise, dan gue sebagai salah satu kakaknya merasa bersalah banget mendengar kabar duka itu.

“iya kak, si wahyu ini suka pulang sekolah paling akhir karena pinjam LKS temannya.” Kata ibunya yang terdengar bersamaan dengan isakan haru. Wahyu harus menyalin PR yang ada di LKS itu dibuku tulisnya, ketika teman-temannya sudah menjawab langsung dari LKS masing-masing.

Mungkin, itu juga alasan kenapa mereka dipertemukan Tuhan dengan kami. Dengan senjata gerak cepat dari beberapa pengurus RMP, Broadcast sana sini, sebar info kemana-kemana dan nyatanya memang banyak sekali yang peduli. Ndak sampai berhari-hari si Wahyu sudah mendapatkan kakak asuh dan bisa kembali bersekolah lagi.

Mereka hidup di tengah kota, yang sebelah rumahnya dekat sekali dengan mall, pusat perbelanjaan segala macamnya, perhotelan tinggi tapi ternyata yang dengan kondisi seperti itu masih ada, masih~.

Kalau kata Bu Risma, Walikota Surabaya, walikota terfavorit. “ saya ini pemimpin, saya ndak mau nanti saya ndak bisa masuk surga gegara ada warga saya yang tidak bisa hidup nyaman, tidak bisa makan, kesusahan pas saya memimpin kota ini. Ini tanggung jawab saya”

Nah, itu sebenernya kunci utamanya. Balik lagi tujuan jadi pemimpin itu apa terus dihubungin deh sama sang maha pemimpin, Tuhan. Kalau ingetnya life after dead pastilah kita semua akan takut. Janji Allah itu Pasti, Janji Tuhan itu Nyata, semua akan dipertanggungjawabkan.

Gue sempet searching, kalau di negara jerman dan negara-negara lainnya itu anak-anak terlantar dan jalanan benar-benar dipelihara oleh negara. Capslok ya, NEGARA!
Hak asuh anak yang ditelantarkan ibunya dan hidup di jalanan itu benar-benar diambil alih jadi hak asuh negara, masuk ke asrama dan disekolahkan. Kalau nanti ketahuan ada orang tua yang diam-diam menyia-nyiakan anaknya akan kena hukuman. Simple kan sistemnya? Tapi mengena bukan? IYA!

Lalu,para pemimpin2 itu mengambil studi di luar negri dengan gelar-gelarnya yang panjang sekali itu buat apa? Mungkin memang negara kita butuh orang-orang pintar dengan gelarnya berderet untuk menyelesaikan masalah perekonomian, pendidikan, politik dan laen sebagainya. Tapi sadar nggak sih, keberlanjutan generasi itu juga penting
“You teach man, you teach man, you teach woman, you build a generation”

Jadi, intinya gue ngomong apa ya pagi ini. Hahaha

Ya itu, kalau nanti ada yang mencalonkan gue jadi walikota entah di kota mana atau mungkin ada yang mencalonkan gue independen buat jadi presiden (hahaha), gue sedang berusaha mengantongi banyak hal buat bekal.

Gue alumni teknik pertanian IPB, yah sedikit banyak gue paham mengenai kondisi pertanian sekarang itu seperti apa tapi gue gak paham tentang ilmu sosial kemasyaratan, keberlanjutan suatu sistem pendidikan, perekonomian keluarga yang juga sebagai fondasi perkenomian suatu negara. Tetapi, dari dua tahun lalu gue belajar banyak sekali dari komunitas independen karya anak negri,rumah merah putih tentang semua permasalahan complicated itu dan semoga bisa jadi bekal ketika suatu saat nanti ADA yang mencalonkan gue untuk menjadi seorang walikota bahkan presiden sekalipun.

Kota Hujan, Pagi. 16 Februari 2015
Aulia Rizqi Nur Abidi
@Rumahmerahputih (twitter/instagram)
@Auliarizq

2 thoughts on “Seandainya nanti gue dicalonkan jadi walikota, gue siap!

  1. Aulll…keren men…Jadi Walikota Tuban aja Ul…hehe…^_^

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s