Sekolah Berkarakter, Sekolah masa depan bangsa

Kesempatan membantu kegiatan proses belajar mengajar di Labschool Pendidikan Karakter IPB merupakan pengalaman yang tidak tergantikan. Sekolah dengan kurikulum pendidikan karakter yang dikembangkan oleh Indonesian Herritage Foundation (IHF) bekerjasama dengan Institut Pertanian Bogor dan Indonesia Singapore Friendship Association (ISFA). Labschool Pendidikan Karakter IPB ISFA merupakan lembaga yang memfasilitasi kebutuhan pendidikan karakter anak usia 2-6 tahun, yang terbagi dalam program play group dan program taman kanak-kanak dan dilengkapi juga dengan pelayanan after school program dan day care , serta pelayanan tambahan bagi anak berkebutuhan khusus seperti autisme.

Kebanggaan tersendiri ketika saya mendapat kesempatan untuk bisa berkontribusi menjadi bagian tenaga pendidik di Labschool tersebut, lingkungan yang menyenangkan dengan anak-anak berkepribadian karakter positif dan kurikulum pembelajaran yang mendidik. Bayangkan, anak berusia dua tahun sudah hafal dengan do’a sebelum beraktivitas (makan, belajar,sebelum dan sesudah belajar), anak-anak berusia 2 hingga 6 tahun yang selalu berkata “Tolong/terimakasih/permisi/maaf dan kata-kata positif lainnya dengan sangat fasih, anak-anak berusia 2 hingga 6 tahun yang percaya diri memeriksakan giginya ke dokter gigi, mereka memang dididik menjadi anak-anak dengan prinsip sembilan pilar karakter yang sudah diterapkan oleh IHF yaitu cinta Tuhan dan segenap ciptaan-Nya, mandiri dan tanggung jawab, jujur, hormat dan santun, dermawan, percaya diri, kepemimpinan dan keadilan, baik dan rendah hati, toleransi, kedamaian dan kesatuan.

Kurikulum setiap minggunya memiliki tema berbeda-beda. Misalkan, Minggu pertama memiliki tema pilar mandiri maka materi pembelajaran yang diterapkan pun tentang karakter mandiri. Bagaimana seorang anak harus mampu mandi sendiri, tidur sendiri, menggunakan sepatu sendiri. Begitu juga dengan tema pilar bertanggung jawab, bagaimana anak-anak harus bertanggung jawab membersihkan sisa makanan yang mereka makan, bertanggung jawab merapikan mainan yang mereka mainkan. Intinya, para guru dan murid harus menggunakan kalimat-kalimat positif ketika berdialog. Seandainya terpaksa harus menggunakan kata “jangan” pada saat berdialog maka harus ada alasan yang masuk akal mengapa perbuatan itu dilarang.

Pertama kali saya berkeliling melihat kondisi sekolah tersebut, saya bertanya-tanya bagaimana mungkin sistem pendidikan karakter mampu diterapkan pada anak-anak yang masih berusia 2 hingga 6 tahun, anak-anak usia dini yang masih ingin berbuat sesukanya dan mengindahkan aturan asalkan mereka senang. Namun, pikiran-pikiran negatif tersebut hilang seketika. Saya benar-benar melihat pemandangan yang sangat memukau. Beberapa kasus positif yang akan saya paparkan mengenai dampak sistem pendidikan karakter tersebut bagi anak usia 2 hingga 6 tahun :

  1. Ketika seorang anak duduk di meja sedangkan teman-temannya yang lain sedang belajar di karpet, seorang guru menegurnya “anak sopan santun… permisi, meja tidak digunakan untuk duduk, jika nana ingin duduk silahkan di kursi, jika sudah siap belajar, mari bergabung bersama teman-teman dan ibu guru di karpet” . Sesaat kemudian, si anak beranjak turun dari meja. Dia duduk di kursi sambil melihat teman-temannya di karpet. Ibu guru tidak menegurnya kembali, beberapa menit kemudina si anak sudah bergabung belajar bersama teman-teman di karpet
  2. Ketika jam bermain, anak-anak bermain di playground indoor. Bayangkan,  bagaimana riuhnya anak-anak usia dini bermain dengan permainan-permainan yang menyenangkan. Lompat sana, lompat sini, berlarian kesana kemari, bahkan tidak bisa dihindarkan jika ada beberapa anak yang saling bertabrakan. Tapi yang saya lihat saat itu adalah, mereka saling mengingatkan dengan mengucapkan “Teman-teman bermain yang aman yaa, sayang teman”  diikuti beberapa anak-anak yang lain mengucapkan “Permisi…aku mau lewat”
  3. Saat itu, anak-anak berusia 2 tahun di playgroup A sedang ada pembelajaran fieldtrip ke salah satu wisata tani di kota Bogor, mereka sangat mandiri dan percaya diri berkenalan dengan salah satu tentor di wisata tani tersebut. Salah satu tentor dari wisata tani tersebut berkata kepada salah seorang guru “anak berusia 2 tahun kok sudah tidak bersama orang tuanya saat fieldtrip, sesuatu yang amazing .biasanya anak-anak seusia mereka jika berkunjung kesini selalu didampingi orang tuanya, hebat yaa”
  4. Salah satu orang tua murid bercerita jika anaknya memberikan pisang coklat yang mereka buat di sekolah pada saat mama pulang kerja. Dia menyimpan di dalam kulkas dan pada saat mama pulang dari kantor, dia memberikannya dan berkata “I Love mama
  5. Ketika ada materi pembelajaran “sayang binatang”, mereka diberi kesempatan untuk memberikan minum kepada seekor kambing dengan menggunakan botol susu bayi, yang membuat saya tercengang adalah salah seorang murid berusia 2.5 tahun, dia memberikan botol minum miliknya kepada kambing tersebut. Dia berkata “nih kambing, berbagi yaa “ , sangat menggelitik sekali.

Keunikan dari sekolah pendidikan karakter ini adalah adanya buku penghubung antara orang tua murid dengan guru, sehingga jika ada trouble attitude di rumah maka orang tua segera memberi tahu ibu guru melewati buku tersebut, begitu juga sebaliknya, jika ibu guru merasa ada perubahan sikap kepada anak maka mereka akan memberitahukan kepada orang tua.

Sepertinya, Kurikulum pendidikan karakter ini dapat di adaptasi untuk keseluruhan kurikulum sistem pendidikan di Indonesia dari sistem pendidikan anak usia dini hingga sekolah menengah keatas dan sekolah luar biasa sehingga kelak akan menghasilkan calon pemimpin-pemimpin bangsa yang berkarakter pula.🙂

<

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s