Anisa, calon ustadzah yang bersekolah

Hari ini, saya ingin bercerita betapa menyenangkan berada di kelas ini. Sekolah dengan gedung bertingkat dan berlantai keramik jelas tidak ditemukan ditempat ini. Apapun bentuk infrastruktur di sekolah ini, bagi saya hari ini adalah hari yang menyenangkan. Hari belajar bersama adik-adik marginal , hari dimana saya mengetahui lebih dekat bagaimana anak-anak marginal belajar. Bagi mereka, belajar adalah sisa waktu luang dari kegiatan mereka bekerja di jalanan. Pemain musik jalanan, penjual koran, dan penjual minuman dan makanan ringan di jalan. Mereka mengagendakan porsi waktu mereka bekerja di jalan lebih besar daripada belajar dan menuntut ilmu.

kami sekolah, kami belajar tapi kami lebih banyak nyanyi di jalanan” tutur salah seorang anak berusia 9 tahun,

Kegiatan belajar mengajar ini diadakan oleh komunitas yang peduli akan pendidikan anak jalanan, kegiatan ini dilakukan sekali dalam seminggu. Materi yang diajarkan pun berbeda-beda sesuai dengan kelas masing-masing anak. Jangan membayangkan ruangan kelas untuk belajar tidaklah semegah sekolah-sekolah di kota metropolitan. Ruangan berukuran 5 m x 6 m dengan meja dan kursi seadanya. Meskipun keadaannya seperti itu, kami dan anak-anak sepakat untuk menyebutnya dengan “sekolah”

Aku mau jadi dokter, aku mau jadi guru, aku mau jadi pemain sepakbola, aku mau jadi ini itu, ini itu..

Teriak beberapa anak saling bersahutan. Riuhnya kelas saat itu hampir tidak terkontrol jika saya tidak segera melakukan aksi tepuk diam.

“Tepuk diam……”

“tepoktepok..…sssst…tepoktepok…ssst…tepoktepok….diam”

Tepuk diam adalah jurus ampuh untuk menenangkan suasana  riuh di dalam kelas, dengan  aksi tepuk diam anak-anak sadar jika mereka diwajibkan untuk diam dan harus fokus kembali  ke materi pembelajaran.

Tema hari ini adalah cita-cita. Setiap anak wajib memaparkan cita-citanya. Antusias mereka membuat saya ingin berlama-lama dan mendengarkan satu per satu cerita mereka tentang impian ingin jadi apa mereka kelak.

Anissa : “ saya ingin menjadi ustadzah”

 Gadis kelas 5 SD itu memang tampak beda dari teman-temannya, pakaiannya selalu rapi menggunakan gamis kecil dengan jilbab yang sepadan. Saya kaget sekali mendengar paparan cita-citanya, karena kebanyakan dari teman-temannya mengungkapkan pernyataan yang sama yaitu ingin menjadi  dokter atau guru. Biasa kalau anak kecil mah, suka ikut-ikutan temannya. Namun, kali ini anissa mempunyai cara dan jawaban sendiri.

“ Subhanallah… kenapa anissa mau jadi ustadzah?”

“Anissa pengen bisa ngajari baca Al-Qur’an dan ngelihat temen-temen annisa pake kerudung” jawab annisa dengan polos.

Belum sempat saya memberi komentar jawaban anissa itu, dia pun berceloteh kembali yang membuat kami, para kakak asuh tercengang kaget.

“Mau kan teman-teman pake kerudung”? ajak annissa dengan pebuh harap kepada teman-temannya

“Mauuuuu…” jawab 30 anak di kelas itu dengan serempak.

            Dialog antara saya, annisa, dan teman-temannya dikelas saat  itu jelas membuat saya trenyuh dan memberikan acungan jempol buat Annissa.

            Seorang Anissa yang masih berumur 10 tahun itu mampu memiliki cita-cita tinggi untuk mengajak teman-temannya mendekatkan diri kepada sang pencipta. Sungguh pemaparan diluar dugaan saya, masih kecil tapi sudah niat untuk berbuat baik kepada sesamanya dan memikirkan keadaan teman-teman perempuannya yang belum menutup aurat mereka. Saya bejar banyak dari kamu nissa, belajar loyalitas dan belajar jangan pernah takut bermimpi besar untuk sebuah kebaikan, karena niat yang baik sudah dicatat Allah sebagai pahala🙂

 Selamat Anissa, kamu calon kartini masa depan ,  semoga cita-citanya terkabul dan  jangan lupa terus bermimpi untuk kemaslahatan umat ya. hehehe:)

2 thoughts on “Anisa, calon ustadzah yang bersekolah

  1. mbak mau nanya nih…apakah nama “Aisyah” dengan “Anissa” itu satu pribadi??…kenapa penokohan nama “Aisyah” sama tidak tercantum pada artikelnya?…Apakah itu salah ketik ataukah ada maksud lain yang sudah tertulis??…mohon maaf lo sebelumnya ^_^

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s