Seandainya, saya adalah (Calon) mama yang terpaksa harus bekerja!

Terlalu berangan-angan ketika saya mencoba menulis ini. Memang umur yang masih 22 tahun terkategorikan sok dewasa untuk berbicara dan menulis hal ini tapi apa salahnya, toh kita nanti juga akan menjadi calon mama buat anak-anak kita🙂. Aku mencoba untuk menuliskan apa yang ada di pikiran, semoga bermanfaat buat calon mama, termasuk aku🙂

Terbesit untuk menuangkan ide menjadi tulisan karena profesi aku menjadi salah satu guru pendamping kontrak selama tiga bulan di labschool. Kali ini saya tidak akan memaparkan tentang kurikulum, para pendidik atau infrastruktur sekolah, saya akan lebih menyoroti siapa anak-anak yang menjadi siswa dari  kelembagaan pendidikan tersebut.

Setiap hari, dari senin hingga jum’at aku harus bertemu dengan mereka yang masih berusia 2 hingga 6 tahun. Anak-anak yang mulai memasuki tahap pengembangan diri, anak-anak yang mulai mengenal dengan nyamannya suatu lingkungan, anak-anak yang selalu bertanya “mengapa bisa seperti itu”. Anak-anak yang menyenangkan dengan beragam tingkah laku menggemaskan. Anak-anak yang diam-diam memberikan pelajaran berharga buat aku dari segi kepolosan, ketulusan dan kasih sayang🙂

Aku Jadi teringat salah satu quote psikolog, “at 3 years, you made be people”. Pada saat umur seorang anak 3 tahun, dia akan dibentuk menjadi seseorang. Tak heran, jika karakter seseorang ditentukan pada rentang umur 2 hingga 6 tahun. Pembentukan karakter tersebut tak lepas dari lingkungan yang ada di sekitar mereka. Ayah dan bunda sudah tentu menjadi peran utama dalam menciptakan kenyamanan lingkungan. Ironisnya, sedikit sekali orang tua yang menyadari hal itu.

Sebut saja, Alfa. Umurnya masih 2.5 tahun. Di kelas, dia selalu memanggil bundanya dengan tangisan yang cukup kencang dan vocal huruf masih samar-samar “Bunda…Bunda…Bunda…aku mau bunda ”. Aku memperhatikan alfa setiap harinya dari berangkat hingga pulang sekolah. Saat berangkat, alfa diantar bibinya yang tak lain tak bukan adalah asisten rumah tangganya. Begitu juga dengan kepulangan. Dia dijemput bibi dengan pak sopir yang mengendari mobil pribadi milik papanya. Sempat aku mengobrol dengan bibinya, ternyata kedua orang tua Alfa adalah karyawan swasta di salah satu lembaga keuangan yang berangkat subuh dan pulang pukul 9 malam. Aku mulai menyimpulkan jika alfa jarang sekali komunikasi dengan bundanya, sehingga di kelas dia menangis dan memanggil bunda.

Ada lagi, sebut saja mimi. Umurnya masih 3 tahun. cantik dan pintar sekali. Sosoknya benar-benar mencuri perhatian aku selama di kelas, bundanya selalu mengantarkan mimi sampai tiba di depan kelasnya. Menggandeng tangannya dan mencium kening si anak saat bel masuk berbunyi. Sepintas, mereka terlihat sangat kompak. Namun yang membuat hati aku bergetar adalah waktu makan snack. yang merupakan kebijakan sekolah untuk membawa bekal makanan masing-masing dari rumah, yang aku lihat saat itu adalah pemandangan yang benar-benar miris. Si mimi yang terlihat kompak sekali ternyata membawa bekal makanan di luar dugaan, tiga gorengan berisi dua bakwan dan satu singkong goreng dengan kemasan kertas koran layaknya jajan gorengan di abang-abang pinggir jalan. Aku melihat mimi dengan perasaan trenyuh, matanya menerawang bekal-bekal temannya yaitu roti tawar isi yang berbentuk kapal, pesawat, spaghetti dengan taburan keju, ayam goreng, susu dengan kemasan tempat makan yang bisa di cangklong dan berbentuk animasi-animasi kartun.

Icha, umurnya 3 tahun berkata pada aku “ibu guru, aku mau berenang lho sama ayah dan bunda, tapi nanti setelah mereka cuti kerja, bunda kan sibuk dengan tugas2 kantornya”

Masih banyak kisah-kisah lainnya yang bisa berlembar-lembar jika aku  tuliskan, meskipun demikian masih ada kok ayah bunda yang mengerti bagaimana menciptakan lingkungan yang nyaman buat buah hati, mengantar buah hatinya bersama dan menjemputnya bersama pula.

Lalu, bagaimana seandainya, aku adalah (Calon) mama yang terpaksa harus bekerja! Aku janji aku tidak akan mengatakan aku sedang bekerja ke anak-anak ku kelak. Aku akan mengantarkannya ke sekolah, lalu ketika aku harus pamit dengannya aku akan berkata “mama mau menjadi orang yang bermanfaat buat orang lain dulu ya nak”. Lalu setelah pulang sekolah, mama akan menjemput kamu dengan berkata “ Hari ini mama seneng banget, karena mama memberikan banyak senyuman buat orang lain, mama juga seneng melihat teman-teman dan orang yang mama temui tersenyum bahagia  saat melihat mama. Apakah hari ini kamu sudah berbagi senyum dan bermanfaat buat teman-teman dan ibu guru di sekolah nak?

Aku berharap dialog ringan dan menyenangkan seperti itu dapat mempererat hubungan ayah budan dengan buah hati, karena obrolan mereka dengan umur segitu haruslah ringan dan menyenangkan🙂

Imagefoto gambar : http://www.google.co.id/imgres?um

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s