Senin

Pagi hari ini masih sama dengan pagi-pagi sebelumnya. Fajar dari timur terbit dengan kokohnya, Suara lantang kokok ayam milik mang acan beradu dengan suara manja anak-anak itik milik mang asep. Unggas-unggas di desa sumberasih beraktivitas seperti biasa, berkokok, bersuara manja, mengepakkan sayap dan berkoloni mencari makan. Mereka sangat menikmati hidup seolah-olah mereka tidak pernah merasakan makna hari senin. Hari yang menuntut para siswa mengumpulkan pekerjaan rumahnya sedangkan para guru berperan kembali sebagai orangtua kedua bagi mereka. Hari yang mengharuskan para karyawan dan buruh menjalankan aktivitas sehari-harinya setelah bertemu anak dan istri selama weekend. Hari bagi para pria dan wanita berdasi untuk kembali duduk di kursi putar dengan segala deadlinenya. Hari yang menuntut mila, nina, elis, bapak  kus dan emak kus bersiap-siap dengan amunisi masing-masing menuju “kantornya”.

Mila adalah gadis cantik 17 tahun. Teman-temannya memanggilnya dengan sebutan kutilang. Kurus tinggi langsing. Paras wajahnya geulis khas gadis sunda dengan tawa renyahnya yang selalu menebar kemana-mana. Tak heran jika seantero lingkungan sekolah mengenalnya. Bagi mila hari senin adalah hari dimana dia harus bangun pagi menyiapkan seragam untuk kedua adiknya, nina dan elis. Memasak nasi dan menggoreng dua telor ceplok untuk sarapan pagi, belum lagi kalau musim kemarau dating, air di bak mandi kering. Mila lah yang pergi ke sungai berjarak hampir 2 km dari rumahnya sambil membawa ember-ember kosong.

Nina adalah gadis belia 14 tahun. Adik pertama dari mila. Tubuhnya yang bongsor banyak menipu orang yang baru dia kenal karena ternyata nina adalah siswa baru di SMP abdi bangsa. Selain Faktor umur yang tak wajar untuk siswa baru sekolah menengah pertama, hobi nina berenang di sungai semasa kecil membuat pertumbuhannya lebih tinggi daripada teman-temannya. Bagi Nina hari senin adalah hari dimana dia harus berseragam rapi, memakai dasi dan topi untuk upacara bendera, bertemu dengan miss septa, guru bahasa inggris yang katanya mirip nenek sihir di film Cinderella. Tapi, senin kali ini beda dari senin-senin sebelumnya, Nina sudah beranjak masuk sekolah menengah pertama dan merasakan upacara bendera di SMP abdi bangsa, berkenalan dengan teman-teman baru dan tidak lagi bertemu miss septa. Satu hal yang masih sama dan tidak ada perubahan bagi nina di hari senin adalah sepatu hitam yang lapisan bawahnya hampir lepas masih menempel di kedua kakinya yang lentik, seragam putihnya semasa SD yang dia pakai lagi di SMP, Tas yang sudah ada tiga jahitan dengan releting dari tali masih dikenakannya.

Elis adalah adik paling kecil bagi mila, usianya baru menginjak 7 tahun. Selama dua tahun menuntut ilmu di SD Sumberasih, bakatnya baca dan tulis terlihat menonjol dibanding teman-temannya. Bayangkan kelas satu SD perkalian ribuan sudah bisa elis jawab hanya dalam waktu beberapa menit. Kata emak, kecerdasannya menurun dari kakek mboro. Semasa mudanya kakek mboro mendirikan tempat pembelajaran untuk teman-temannya, Sekolah inti rakyat. Kakek mboro menjadi pengajar sekaligus pendiri pada masa itu. Hari senin bagi Elis adalah hari yang menyenangkan, hari bertemu dengan rentetan angka-angka rumit yang siap di pecahkan dengan sederhana, hari dia bisa jajan cireng sepuasnya di depan gerbang sekolah karena uang jajan masih penuh dikantongnya, namun hari menyenangkan itu tiba-tiba menjadi mendung saat teman-teman paduan suaranya menanyakan “ Elis… rok dan baju kamu bukan buat paduan suara, Baju paduan suara kan warnanya putih terus panjang, roknya warnanya hitam bukan hitan ada putih-putihnya” memang rok yang dipakai elis saat paduan suara adalah rok ibunya semasa SD dulu, rok hitam panjang dengan warna yang sudah usang dan baju elis paduan suara adalah kemeja seragam sehari-harinya yang ditumpuk dengan kaos panjang.

Emak kus adalah ibu ketiga gadis-gadis tersebut. Guratan keriput tak seharusnya ada di umur emak yang masih 30 tahun, emak nikah mudah dengan bapak di usianya 12 tahun. Saat umur 13 tahun, emak  melahirkan mila kemudian umur 16 tahun nina lahir dan umur 23 tahun si kecil dina menyusul. Hari senin bagi emak sama dengan hari selasa sampai minggu. Bagi dia tidak ada yang istimewa, tumpukan baju telah siap untuk disetrika dan dicuci. Berangkat pukul 07.00  dan pulangnya pukul 16.00, sepintas jam kerjanya mirip dengan pegawai hanya saja kantor emak bukan gedung bertingkat dan ber-ac. Kantor emak adalah rumah-rumah bermarmer warna-warni dengan pagar besi yang tinggi dengan satu satpam dan seekor anjing di depan rumahnya . Emak kus adalah sosok ibu yang hampir punah di zaman modern sekarang ini, sosok ibu yang tak mengenal siang dan malam, peluhnya bukan untuk kesenangan dirinya sendiri melainkan untuk sekolah ketiga anak-anaknya.

Pak kus,adalah sosok kepala keluarga yang bertanggung jawab. Ototnya beradu dengan kulitnya yang kelam dibalik tulangnya yang kekar. Berangkat pukul 05.00 pagi dan pulang pukul 23.00. meski jam kerja sampai malam, pak kus selalu menyempatkan pulang ke rumah bertemu istri dan ketiga anaknya. Pak kus memiliki impian menyekolahkan ketiga anaknya sampai ke perguruan tinggi, sehingga apapun dilakukan untuk kebahagiaan anak-anaknya. Profesinya pun beragam, pagi menjadi sopir angkutan umum, siang menjadi tukang cuci piring di rumah makan padang, sore menjadi kuli bangunan dan malam hari sebagai sebagai tukang parkir di pertokoan.

Rumah berukuran 8 m x 6 m merupakan saksi diam rutinitas keluarga tersebut di hari senin. dinding rumah dari susuran rapi bambu terlihat megah dengan ratusan lantai berwarna-warni dengan bentuk tak beraturan. Tikar warna coklat mempermanis ruangan rumah itu. Boneka angry bird warna merah kado emak bapak di ulangtahun elis beberapa bulan lalu tergeletak di sudut ruangan. Radio butut tak berdebu bersanding dengan boneka itu. Tiga bantal dan satu guling tersusun rapi di atas kasur tua. Lampu TL merk ternama sebagai penguasa atap ruangan tersebut. Kamar mandi terpisah dengan ruangan itu, berada di sebelah dapur dan hanya tersekat dengan bilik bambu. Botol mineral berisi uang recehan berada di samping kendang dan botol berisi kerikil-kerikil. Diam-diam mila bergumam, walaupun hari senin aku harus bangun lebih pagi menyiapkan seragam adik2, tapi aku senang karena hari senin aku libur membantu mencukupi kebutuhan keluarga, bernyanyi membawa kendang  dan botol kerikil keliling pasar pukul 03.00 dini hari.

Dengan kesederhanaan itu, Pak Kus dan Bu Kus selalu mengajarkan ketiga gadisnya untuk pantang mengeluh dan selalu bersyukur. Kekuatan cinta yang sangat kuat diantara mereka mampu menumbuhkan satu kebiasaan yang tak pernah pudar mereka lakukan di hari senin. Ibadah magrib berjamaah dilanjutkan dengan makan malam bersama. Kebiasaan hangat yang mereka lakukan sejak mila masih SMP. Kebiasaan itu membuat Pak Kus selalu menjadwalkan pulang dulu dari pekerjaan-pekerjaannya saat menjelang magrib sebelum dilanjutkan mencari nafkah lagi sampai pukul 23.00. Mila, Nina, Elis, Pak Kus dan Mak Kus sholat magrib bersama dengan mukena yang bersih meski warnanya telah memudar dan sarung kotak-kotak hijau tua yang merupakan sarung satu-satunya milik pak kus. Makan bersama dengan makanan super istimewa karena hari senin Pak Kus selalu menukar upah mencuci piringnya dengan lima bungkus nasi padang lauk pauk bermacam-macam, sedangkan hari senin, Bu Kus selalu membawa sayuran dan lauk pauk saat pulang dari rumah nyonya sebagai upah belanja. Begitu juga dengan Elis, Nina dan Mila, Mereka selalu menghemat uang jajan mereka setiap senin untuk patungan membeli minuman segar seperti sirup, es kelapa muda, es buah atau es campur. Romantisme keluarga di ruangan  8 m x 6 m adalah bukti bahwa cinta itu sederhana, cinta itu tidak harus dengan kemewahan. Cinta adalah menutupi kekurangan dengan kelebihan, menyembunyikan tangis dengan memberikan  tawa. Cinta yang sederhana akan menjadi istimewa jika di apresiasi dengan cara yang super istimewa.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s