anak-anak di saung mirwan, setahun lalu…

          Tepat setahun yang lalu, aku  resmi menjadi mahasiswa yang bekerja di sebuah perkebunan farm di daerah puncak, Bogor-Jawa barat.  Aku resign selama 40 hari dari dunia kampus karena tuntutan kegiatan rutin mahasiswa semester enam untuk praktik lapang. Perkebunan sayuran hidroponik Saung Mirwan adalah “kantor” aku saat itu. Berbekal ilmu dari perkuliahan mengenai lingkungan dan bangunan pertanian di semester empat, dengan sigap  aku ikut terjun bekerja dan mencari ilmu dengan para petani di sana. Empat puluh hari. waktu yang cukup lama dengan kegiatan yang hampir sama setiap harinya. Berangkat pukul 08.00 wib  dan pulang pukul 16.00 wib dengan kegiatan-kegiatan monoton seperti semai benih, panen timun mini dan tomat,  ngajir, persiapan media tanam serta menanam bibit. Sangat monoton bukan? Meski tak jarang juga, aku dan teman2 ikut  kegiatan packaging dari pukul 20.00 WIB hingga pukul 03.00 WIB atau ikut bagian marketing memasarkan sayuran tersebut ke mall-mall  atau mungkin berkunjung dengan kepala kebun ke beberapa partner kebun saung mirwan. Tapi sama saja, bertemu sayur setiap harinya itu membosankan, hehehe🙂

                Setelah kegiatan praktik lapang berjalan 20 hari, perasaan bosan mulai menjangkit aku dan teman2. Aku pikir, harus ada kegiatan lain yang mengasyikkan untuk mencegah kebosanan agar tidak terserang penyakit malas. Kegiatan apa ya, yang tidak harus bertemu dengan sayur lagi dan bisa fun buat ngejalaninya serta kalau bisa bermanfaat buat sekitar.

                Aku lempar pikiran aku ke teman2 seperjuangan di tempat PL. Ada yang menanggapi serius dengan mengajukan ide, “bagaimana kalau kita ngadain pelatihan buat ibu2 warga sekitar saung mirwan atau mengajari anak2 di sekitar sini”. Antusias teman2, menyemangati aku untuk menemukan link mewujudkan ide-ide dahsyat tersebut. Selang beberapa hari, tak disangka salah satu pekerja  di saung mirwan, sebut saja mang iing cerita kepada kita tentang seorang mahasiswa praktik lapang yang pernah mengajar adik2 di sekitar saung mirwan untuk belajar bersama di pesantren yang telah disediakan. Wow… I think it’s the best way to reach our dream😉

                “ Mang bolehkah kami melanjutkan perjuangan mahasiswa tersebut untuk mengajari adik-adik belajar lagi”  tanyaku tanpa basa-basi.  Ada segumpal harapan dibalik wajah mang iing yang telah berpeluh keringat saat itu, matanya yang berbinar tidak bisa membohongi harapan yang mungkin sudah lama tersimpan dan tak berani diutarakan. Kata yang terucap sebagai jawaban hanyalah “ yakin, kamu akan mengajari anak2 disini?” YAKIN, 100 % mang, jawabku penuh semangat dan antusias.

                Sejak saat itulah, aku dan teman2 diperkenalkan dengan ayah mang iing yang merupakan tetua di desa tersebut untuk meminta ijin penggunaan pesantren sebagai tempat pembelajaran adik-adik kelak. Ijin sudah di dapat, mentor teman2 PL dari UNS, UMY dan IPB telah siap, adek2 warga sekitar saung mirwan sudah dihubungi mang iing dan saatnya kegiatan pembelajaran di MULAI.

                Kegiatan pembelajaran tersebut rutin dilakukan setiap hari setelah kami melakukan kegiatan praktik lapang, pukul 16.00 wib dan berakhir sebelum magrib, pukul 17.30 WIB.  Adik2 tersebut terdiri dari kelas TK dan SD. Kegiatan pembelajaran dilakukan dengan mengelompokkan adik-adik berdasarkan kelasnya. Kelas satu sampai tiga di bimbing dua mentor dan kelas empat hingga kelas enam dibimbing dua mentor serta kelas TK dibimbing satu mentor.

           Materi pembelajaran berbeda setiap harinya yaitu bahasa indonesia, IPA, IPS, Matematika, agama, bahasa inggris dan bahasa indonesia. selain itu, permainan yang fun juga dilakukan untuk menghilangkan kepenatan saat belajar, menyanyikan yel2, menyanyikan lagu kebangsaan serta yang paling seru adalah nonton bareng “King” dan “Garuda di dadaku”. meski tenaga mentor seadanya, meski tak ada sarana mendukung, aku dan teman2 tak ingin sedikitpun mengurangi senyum yang telah adik2 sunggingkan sejak pertama bertemu. senyum harap yang sulit dideskripsikan, senyum puas tanpa batas🙂

                Ada harapan yang terpancar dari raut muka adek2 disana, ada asa terselubung yang mulai teraba di setiap tatapan mata mereka, ada janji kesuksesan yang tinggi di setiap kepalan tangannya saat menuliskan angka ataupun kata dan ada hati merindu yang telah terobati untuk menemukan kembali tempat bimbel yang nyaman, tanpa embel-embel rupiah untuk membantu PR disekolah mereka, share kendala materi saat guru ajarkan disekolah. And, I found the true story in my journey.

                Cerita singkat ini di dedikasikan untuk teman2 seperjuangan PL yaitu : IPB ( Dhea selly hutabarat, Ernawati, Siti musfiroh, Gita pujasari ), UMY ( dede dan ipeh), UNS ( tyas, puspita, asih, ibnati baroroh) masih ingatkah saat setelah pulang PL, adek2 menjemput kita di depan saung untuk belajar bersama ? hehe🙂Image

 

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s