Serba penasaran, membuat saya ketagihan..

Komunitas peduli alam dan sesama atau sering disebut dengan kompas adalah komunitas peduli pendidikan anak-anak desa cihideung udik. Sedangkan rumah harapan adalah salah satu program sosial dari BEM KM IPB yang kegiatannya join dengan KOMPAS.

Awal memasuki kedua komunitas ini karena ajakan dari salah seorang teman yang dulu satu kakak asuh di Ce’es [ baca post sebelumnya] yaitu shafiyyah. Sasaran dari program kerja kedua komunitas ini adalah adik-adik di desa cihideung udik yang  ternyata sebagian besar dari mereka adalah para pemungut botol bekas dan kertas bekas di sekitar SAPTA [tempat makan di fakultas teknologi pertanian IPB]. Pendirian KOMPAS ini juga dikarenakan para sesepuh pendiri komunitas penasaran dengan adik-adik pemungut botol bekas di daerah Sapta tersebut sehingga mereka menyelidiki  siapa dan dimana mereka tinggal, hingga suatu ketika mereka diberi kesempatan untuk membuntuti adik-adik pulang ke rumahnya setelah melakukan kegiatan pemungutan tesebut.

Hari minggu siang, pukul 13.00 – 16.00 adalah agenda rutin kami bermain dan belajar bersama adik-adik di desa cihideung. Transportasi ke desa cihideung  cukup mudah, hanya naik sekali angkot kea rah cibanteng kemudian turun depan Ind*mart sebelum pom bensin. Kurang lebih 1 km jalan kaki memasuki desa cihideung dan tempat mereka berkumpul untuk siap bermain dan belajar. Walaupun terkadang kegiatan bermain dan belajar tersebut dilakukan di Student centre LK IPB karena ingin mencari tempat belajar yang baru dan menyenangkan.

Hmmm… rasanya saya belum bercerita tentang kondisi ruang kelas untuk kegiatan belajar dan bermainnya. Jadi begini, ruang kelas tersebut sebenarnya adalah teras milik pak RT di desa tersebut. Jadi, para sesepuh pendiri kompas meminta ijin kepada bapak ketua RT untuk menyewakan tempatnya rutin setiap hari minggu siang samapi sore untuk digunakan sebagai ruang keals kegiatan belajar dan bermain. Ruangan tersebut tidak terlalu besar, namun terasa nyaman jika dipenuhi oleh tawa dan rasa ingin tahu  mereka tentang materi ajar.

Perasaan yang saya rasakan saat pertama kali berjumpa dengan mereka adalah sangat kaget. Dari yang awalnya saya menjadi kakak asuh di SD situleutik yang murid-muridnya pendiam, nurut dan rapi kemudian bertemu dengan adik-adik di desa cihideung yang sangat “liar”.

Mengapa saya harus mengatakan jika mereka adalah anak-anak “liar”?

Bayangkan, Murid-murid dengan segala jenis umur berkumpul untuk belajar dan bermain bersama. Adik yang paling kecil adalah berumur 4 tahun sedangkan yang paling besar berumur 13 tahun, belum lagi jika mereka ada yang membawa adiknya yang masih berumur 2-3 tahun.

Oh… My God, Save us… 😦

Pertama kali karena sangat kaget dengan keadaan disana, saya pun agak risih dan pengen cepat-cepat pulang. Bocah laki-laki berusia  5 tahun dengan bajunya yang sudah bercampur antara ingus dan kotoran tanah nempel di badan saya, kemudian disusul dengan perempuan kecil berumur sekitar 4 tahun lompat di punggung saya, karena memang pada saat itu posisi saya adalah jongkok.  belum lagi teman-teman yang lainnya dengan kondisi pakaian yang sama berlari-larian dan kejar-kejaran. Sangat tidak kondusif, bahkan tepuk diam yang menjadi obat penenang anak-anak didik di SD Situleutik [ baca post sebelumnya] pada saat kegaduhan berlangsung pun tak mempan.

Kesabaran saya hampir terbatas, rasa kesal dan emosi mulai berkecamuk dan ingin segera diluapkan. Andai saja, salah satu kakak asuh di komunitas tersebut tidak memberikan briefing dulu untuk para kakak asuh baru seperti saya tentang  bagaimana cara menghadapi anak-anak seperti itu maka ruang belajar tampaknya sudah menjadi kicauan abstrak rasa kesal saya.

Next, itu cerita pertama saya menghadapi anak-anak “liar” seperti mereka, dan bagaimana selanjutnya??

Ya, sekali lagi saya KETAGIHAN. Saya selalu mengkosongkan jadwal  hari minggu saya untuk belajar dan bermain bersama mereka, bahkan pernah esok harinya atau senin ujian tengah semester namun, karena sebuah passion saya tinggalkan buku dan belajar saya and then go to cihideung udik dan bersenang-senang dengan mereka. Bagi saya, senyum dan tawa mereka adalah semangat dan hal-hal baru yang selalu membuat saya penasaran…penasaran… dan penasaran.

Penasaran untuk mengenal lebih jauh mereka

penasaran bagaimana mereka masih bisa tetap  tersenyum  ikhlas walaupun keadaan ekonomi memaksa mereka menjadi seorang pemungut botol bekas di kampus

Penasaran bagaimana mereka bisa mempunyai semangat tinggi untuk terus belajar walaupun mereka mungkin haarus bersusah payah mengatur jadwal sekolah dan membantu mencari nafkah orang tua.

Dan yang terakhir, penasaran mengapa saya masih betah dan ketagihan untuk terus belajar dan bermain bersama mereka padahal baju mereka yang  beringus dan berwarna coklat karena kotoran tanah tersebut selalu menempel  di baju saya saat bertemu mereka…

Gambar kondisi kegiatan belajar dan bermain di student centre..🙂

Image

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s