Kesaksian “Commuter Line”

Lengang suasana stasiun bogor. Rasanya atmosfir lebaran haji esok hari belum sepenuhnya berada di kawasan ini. Suatu momen riuhnya dibalik makna lebaran adalah berjejalnya para pemudik di stasiun, terminal atau bandara yang ingin pulang kampung ke kota asal untuk bertemu sanak saudara. Namun, keadaan itu bernegasi dengan keadaan stasiun bogor H-1 lebaran idul adha. Semua tampak lengang, bahkan semut-semut berjejer rapi horizontal seolah stasiun tersebut adalah dunianya seorang . Kereta Commuter linedengah gagahnya mengibaskan ekornya yang begitu panjang. Ular besi itu tampak sangat tampan dan kuat. Warna putih dengan sedikit coretan merah seolah menandakan jika dia siap melaju mengantarkan penumpang menuju ibukota.

            Udin, seorang anak berusia sekitar 9 tahun. Tangan kanannya menggegam gelas air mineral kosong. Sebuah gelas dengan recehan uang dua ratus atau lima ratus perak. Belum sampai terisi penuh, recehan uang tersebut tercecer di gerbong empat kereta. salah satu penumpang tergerak hatinya untuk membantu merapikan ceceran uang tersebut.

“ Terima kasih kak” sapa udin dengan senyum yang tampak jelas sedikit memaksa.

“iya, sama-sama. Kok nggak sekolah? Libur ya hari sabtu?” tanya si penumpang itu dengan wajah penuh selidik.

Obrolan hangat antara kedua insan tersebut cukup menggelitik. Udin hanya diam, tak sepatah katapun terungkapkan. Entah karena dia memang anak pendiam ataukah memang takut untuk berbicara dengan orang yang belum dia kenal. Entahlah…

Penumpang tersebut lantas tidak menyerah begitu saja, seribu jurus dia lakukan. Dan akhirnya, suatu peristiwa tidak disangka yang membuat udin bersuara

“Maaf kak, saya tidak suka di foto. Saya malu di foto kak, saya takut masuk koran karena bolos sekolah hari ini” tuturnya dengan polos. Si penumpang yang saat itu mengeluarkan telepon genggamnya untuk mengangkat panggilan telepon tersentak kaget.

“ kenapa adek? Kenapa tidak mau difoto? Tanya penumpang itu sedikit mengorek keadaan.

“ hari ini saya bolos sekolah kak. Pasti ibu guru marah-marah lagi sama saya kalau tau saya bolos” suara bocah kecil itu agak sedikit berintonasi dibandingkan sebelumnya.

“ loh, kenapa kamu bolos?” sambil bertanya, penumpang mengajak udin duduk. karena memang kondisi didalam kereta yang tidak begitu ramai.

“Udin kasihan dengan ibu udin, nyuci baju Nyonya tapi duitnya belum cukup untuk sekolah illa. Hari ini illa mau es krim yang bentuknya segitiga tapi duitnya masih dua ribu” tuturnya dengan terbata-bata dan mata sedikit berkaca-kaca.

“Udin, illa siapa?” penumpang itu dengan sabarnya mencari tau penuh duga.

“illa, adik udin” umurnya lima tahun. Dia pengen makan eskrim yang bentuknya segitiga” jawab udin dengan wajah tertunduk.

            Penumpang tersebut mencoba menduga siapa udin, siapa ibu udin, siapa illa dan bagaimana kondisi mereka sebenarnya. Logika dan perasaan bercampur aduk sehingga menghasilkan silogisme jika udin adalah bocah berusia 9 tahun yang sedang bolos sekolah karena ingin mencukupi kebutuhan hidup keluarga dan sekolah illa,adiknya. Sedangkan gaji ibu udin sebagai tukang cuci tidak mencukupi semua kebutuhan tersebut.

“ Udin turun mana nanti?”

“Udin ikut keretanya balik bogor lagi kak, mau cukupi duit sepuluh ribu dulu buat beli eskrim illa….

Demi keluarganya, dia mengorbankan sekolahnya. Pantaskah???

 

Diam atau bertindak??Image

Terserah!

Undang-undang yang berbunyi “Fakir miskin dan anak terlantar dipelihara oleh negara”. Terbukti hanya cermin dan obrolan belaka. kami perlu bukti bukan sekedar himbauan dan janji-janji.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s